Wednesday, November 4, 2015

Wedding Dress

Tiga tahun yang lalu tepatnya tanggal 3 November 2012, saya menyelenggarakan resepsi pernikahan. Kala itu konsep acara sedikit bertema "purple chic" :D. Mulai dari undangan pernikahan yang bertemakan putih-ungu, souvenir pernikahan yang tak mau kalah (baca: putih ungu juga), tenda acara yang kebetulan ngeluarin pilihan warna baru, yaitu putih ungu juga Hahaha pokoknya hari-hari bahagia itu dikelilingi oleh warna ungu. Untung suami saya manut-manut saja, terserah yang penting hasil bagus dan diatas segalanya acara berjaln lancar. Jadi inget gimana pontang pantingnya saya dan suami mempersiapkan acara spesial kami. Maklum, tenggat waktu yang ditetapkan sangat mepet jadi persiapan sangat menguras banyak pikiran, tenaga, waktu dan juga uang. Gimana enggak, waktu itu kami hanya punya waktu 1 bulan lebih sedikit, sedangkan kami berdua sama-sama kerja.. Waktu luang yang kami punya untuk mempersiapkan semuanya ya cuma sabtu-minggu itupun terpotong sabtu karena suami saya waktu itu masih kuliah S2. Jadilah kami marathon, tapi kalo inget masa-masa itu nggak akan menyesal...

Dari semua hal yang disebutkan diatas tadi, ada satu yang masih saya simpan rapat sampai sekarang. Tidak banyak yang tau kalau saya juga punya gaun pesta sendiri (wedding dress) yang warnanya juga ungu. Hahahaha.... niat banget ya? Iyya emang...
Desain gaun saya terinspirasi dari sebuah gambar/foto yang beredar di dunia maya. Foto itu begitu mengganggu pikiran saya, mengganggu dalam artian sangat menginspirasi, modelnya simpel dengan perpaduan warna yang oke membuat gaun itu terlihat anggun. Jadilah saya memutuskan untuk membuat gaun saya sendiri dengan model yang kurang lebih sama dengan yang ada di foto.

INi dia penampakan gaun yang menginspirasi saya.

Namanya Hana Tajima, seorang desainer muslim asal Negeri Britania Raya yang juga keturunan Jepang. Pertama kali liat foto ini saya langsung jatuh cinta, dan begitulah akhirnya proses perburuan kainpun dimulai. Berbekal gambar yang sudah saya print, saya mengubek-ubek Toko Kain Ashok di daerah Kranggan Semarang. Berbagai gulungan kain diturunkan demi memenuhi keinginan saya menemukan warna dan juga bahan yang kurang lebih sama untuk membuat imitasi gaun ini. Saking banyaknya kain yang sudah diobrak abrik tapi tak kunjung ketemu juga hampir saja saya menyerah, dan sang pemilik toko sampai bilang gini:

"Kamu mau gaun yang kaya gitu? warna sama modelnya juga gitu?'
Saya jawab "Iyaaaa...."
"Kalau gitu kenapa nggak kamu beli aja tuh baju?!" kata si pemilik sambil tertawa "Gampang kan?"
Saya juga jadi ikutan ketawa... "Iya juga ya..tapi kan itu nggak dijual makanya saya pengen bikin sendiri" jawab saya.

Akhirnya saya nemu juga bahan yang warnanya hampir mirip dengan yang saya mau dan juga jatuh. Saya beli 3,5m. Kemudian saya juga mencari bahan brocade yang agak tebal untuk bagian atas seperti yang ada digambar. Nemulah bahan brocade yang disebut bulu ayam, mungkin karena teksturnya yang halus :)

Dari sana saya menuju ke penjahit langganan teman saya. Menjelaskan segala detail yang saya inginkan yang kurang lebih sama dengan yang ada di gambar, termasuk pemberian payet. Proses jahit menjahit ini memakan waktu sekitar 2-3 minggu karena saya harus fitting akhir barangkali ada yang harus ditambah atau dikurangi. So far, hasilnya memuaskan dan saya suka. Dan inilah saya dalam balutan gaun saya.

Tertarik membuat gaun pernikahan anda sendiri? Tips dari saya cari sebanyak mungkin referensi untuk mendapatkan yang cocok sebagai gaun anda. Selamat berburu :D
Cherioo

No comments:

Post a Comment