Friday, January 22, 2016

BUKU, DUNIA YANG INGIN AKU BAGI DENGAN KAWANKU

Aku diantara koleksiku di kantor
Jika aku diminta untuk menggambarkan diriku melalui tiga hal, aku akan memilih ini: Membaca, Berkelana, dan Tertawa. Kenapa? Karena hidup terlalu singkat untuk tidak dinikmati, dan aku memilih untuk menikmatinya sedapat mungkin melalui tiga hal itu. Aku, perempuan 28 tahun yang gemar membaca bahkan terlalu menikmatinya. Aku tak ingat kapan pertama kali aku jatuh cinta pada buku, yang jelas aku sudah senang membaca sejak aku sudah bisa membaca dan selalu menjadi salah satu pengunjung setia perpustakaan sekolah sejak aku masih SD hingga jenjang pendidikan tertinggi-kuliah. Cerita rakyat adalah bacaanku kala SD yang sedikit banyak mempengaruhi genre bacaan yang aku sukai hingga saat ini-fiksi, meskipun non fiksi kadang cukup menarik dan sayang untuk dilewatkan. Membaca bukan hanya sekedar hobby bagiku, tapi menjadi sebuah kebutuhan dan keharusan. Tak ada yang bisa menggantikan kepuasan dari adrenalin yang terpacu ketika melewati lorong-lorong gelap dan sempit yang meliuk rumit dalam labirin kepanikan novel detektif, hati yang berbunga-bunga dalan novel romantis, dan jiwa yang penuh semangat ketika membaca buku motivasi, pun tawa yang terbahak ketik membaca cerita konyol. Jadi, bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta setengah mati pada membaca jika hanya dengan membaca sebuah buku seharga 5 ribu, 10 ribu bisa membahagiakan hati. Benar, apalagi buku tidak akan terasa panas membakar ketika kita memegangnya terlalu lama saat kita membaca, berbeda dengan tablet atau hand phone yang kita gunakan ketika membaca e-book dan sejenisnya.

Dari pengamatanku sejak masuk bangku sekolah hingga kini sudah bekerja dan berumah tangga, tak banyak orang yang kutemui yang mempunyai kegilaan membaca seperti aku. Kebanyakan mereka menyentuh buku dan serius membaca saat ada tugas atau sebagi persiapan ujian, sepertinya kegiatan membaca dan mengoleksi buku masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, atau mempunyai sebuah koleksi buku pribadi belum menjadi budaya masyarakat kita.

Jorge Luis Borges, penulis kenamaan Argentina, pernah mengungkapkan, diantara semua instrumen manusia yang paling penting, tak diragukan lagi, adalah buku. Menurutnya, seperti juga mikroskop/teleskop bagi penglihatan, lalu telepon bagi pendengaran/suara, maka buku adalah kepanjangan dari ingatan dan imajinasi. Aku setuju sama pendapat beliau. Buku bisa membuat kita menengok jauh sekali ke masa lalu, mengenal sejarah, dan mengenal bangsa kita. Hal ini tentu saja bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Bahkan Sastrawan terbaik Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah berkata, "tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya".


Tumpukan koleksi buku di ruangan kantor
Membaca yang bukan menjadi budaya dalam bangsa kita ini bukannya tidak ada sejarahnya, Pertama, rezim orde baru sangat alergi dengan pemikiran kritis yang mengancam kekuasaannya. Untuk tujuan itu, Orde Baru menghancurkan jutaan literatur, membredel koran, membunuh dan memenjarakan banyak sekali penulis, dan memusnahkan pemikiran-pemikiran progressif—khususnya marxisme. Kedua, mahalnya harga buku di Indonesia. Konon, harga buku di Indonesia termasuk yang termahal di dunia. Penyebabnya, harga kertas yang sangat tinggi dan ruwetnya tata-niaga buku di Indonesia. Akibatnya, buku menjadi sesuatu yang eksklusif di tangan mereka yang sanggup membeli. Sementara mayoritas rakyat miskin kesulitan mengakses buku. Ketiga, minimnya peran pemerintah dalam memupuk minat membaca di kalangan rakyat. Pemerintah jarang sekali memproduksi buku secara massal untuk rakyat. Perpustakaan juga belum meluas dan massal. Pemerintah juga kurang berperan aktif untuk menekan harga buku agar bisa semurah mungkin dan bisa dijangkau oleh kantong rakyat.
Sedih banget ya, karena membaca belum mengakar kuat disekitar kita, makanya aku sering beli buku dan aku taruh di lemari kantor biar temen-temen yang punya hobi baca bisa tersalurkan minat bacanya dengan pinjem buku-buku yang aku punya, dan ketika ada temen-temen yang ulang tahun, biasanya aku kasih kado buku biar mereka jadi lebih seneng baca. Temen-temen di kantor malah ngusulin supaya aku menarik iuran ketika ada yang meminjam buku, misalnya dua ribu rupiah per tiga hari supaya aku bisa mengumpulkan uang dan bisa membeli buku baru, jadi terharu. Mereka tau aku pengen banget punya perpustakaan pribadi suatu saat nanti, seruangan penuh buku, karpet tebal dan bantal-bantal berwarna warni untuk bersandar kala membaca dan secangkir teh atau kopi hangat sebagai selingan. Jadi ngelantur deh hehehhee… Nah, kebetulan banget Stiletto Book mengadakan lomba blog ulang tahun yang kelima dan aku ingin ikut berbagi cerita tentang hobbyku  membaca. 


Membaca buku di sela-sela kesibukan kantor
Bagiku membaca adalah hal yang sangat mengasyikkan, kita bisa berkeliling dunia hanya dengan membaca. Banyak yang bilang kalau membaca itu harus punya waktu luang, siapa bilang? Aku bisa membaca dimana saja dan kapan saja. Sebagai contoh, aku bisa membaca ketika di mobil/kendaraan apapun ketika bepergian, menekuri halaman demi halaman diantara deru mesin yang melaju sembari menatap keluar jendela untuk menikmati pemandangan sesekali. Aku juga membaca sambil ngelonin anak, sebelum memulai ritual menyusui aku menumpuk bantal disekelilingku, mencari posisi nyaman untuk membaca ketika bayiku mulai menyusu. Aku membaca ketika menunggu, juga membaca kala memasak di dapur tanpa kesulitan. Aku membolak balik masakan di wajan seraya menekuri baris demi baris yang berganti lembar.


Kopdar Goodreads Semarang di Taman KB
Kemudian aku menemukan sebuah komunitas pembaca buku dimana anggotanya adalah orang-orang yang hobi membaca dan menimbun buku. Goodreads nama komunitas itu, aku bergabung sejak 2010 dan masih aktif hingga sekarang. Melalui komunitas membaca ini aku bisa berbagi banyak hal, beberapa diantaranya donasi buku, diskusi buku, juga saling meminjam buku diantara sesama anggota. Selain menambah wawasan, kita juga jadi punya banyak teman dari berbagai penjuru Indonesia.




Intinya membaca itu asalnya dari hati dan niat yang tulus, pasti deh dijamin kamu bakalan bisa dan ketagihan membaca. Apalagi kalau baca novel atau buku motivasi dari Penerbit Buku Perempuan yang tau pasti mood kita bakalan naik turun, dijamin bakalan tambah semangat deh! Secara kita kaum perempuan butuh banyak hiburan, dan membaca adalah salah satu hiburan murah yang bisa didapatkan :D. Selain hiburan murah dan menyenangkan, membaca terbukti memiliki banyak manfaat seperti mengurangi stress, dan menambah wawasan serta pengetahuan. Pernah suatu waktu aku pergi mengantar beberapa teman-teman asing dari Eropa untuk menjelajah beberapa kawasan wisata di Jawa Tengah, kala itu kami menyambangi Candi Borobudur dan disana aku jadi guide dadakan karena mereka nggak mau sewa guide. Untung aku sudah baca sejarah tentang Borobudur sebelumnya jadi aku bisa membagikan informasi yang aku dapat ke mereka. Tengsin dong kalo kita sampe nggak tau sejarah budaya bangsa sendiri :D. Pun ketika si kecil rewel di awal aku menjadi seorang Ibu, buku-buku panduan merawat bayi membantuku melewati hal-hal buruk yang kurasakan kala itu. So guys, kita nggak akan rugi kok kalau membaca! justru kita akan jadi orang yang lebih berwawasan dan berpengetahuan. Menurutku ada hal-hal yang nggak bisa diukur dengan uang, pengetahuan salah satunya dan berbagi bisa melalui apa saja, tak terkecuali cerita menarik dari sebuah buku.

Bahkan, sampai sekarang ada beberapa temen kuliah yang masih meluangkan waktu maen ke rumah cuma buat pinjem buku. Seneng banget rasanya ketika ada orang lain yang juga punya minat baca yang baik. Sayangnya ada juga beberapa teman yang tidak bertanggung jawab, meminjam buku dan tak pernah mengembalikannya, semacam resiko yang selalu ada  buat para book lover. Tapi itu tidak menyurutkan semangatku untuk menularkan virus baca  di sekitarku. Senyum dulu ah…

Semoga pemerintah makin gencar dalam mensosialisasikan manfaat membaca dan membangun fasilitas penunjang supaya negara kita bisa menjadi negara dengan penduduk yang cerdas karena doyan baca dan ke depan Indonesia bisa menjadi "bangsa pembaca buku" sehingga kita tidak lagi susah menemukan orang membaca di dalam bis, kereta api, bandara,dan juga taman. Seperti masyarakat di negara maju yang tidak malu untuk membawa buku kemana-mana sebagai teman perjalanan.

Salam membaca




Nama        : Dani Ristyawati
Facebook  : Dani Ristyawati
Twitter      : @daniaku7
Email        : daniristyawati@gmail.com


2 comments:

  1. Barakallah Dani...

    *mau dong dikado buku.. ekekekekek *piss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin..semoga nanti masih ada kesempatan buat kasi kado buku ke Rina ya :D, suka genre apa?

      Delete