Friday, October 6, 2017

PERTAMA KALI TRAVELING BARENG BULE

Me-Toni-Gemma-Simon



Tahun 2009 adalah salah satu tahun favorit dalam sejarah karirku. Kenapa? karena tahun itu banyak hal menakjubkan terjadi. Di tahun itu saya berhasil lulus dari perguruan tinggi dan mendapatkan gelar S.S (sarjana sableng) eh bukan bukan maksudnya sarjana sastra hehehe piss...



Lalu disela-sela kesibukan mengurus syarat wisuda ditengah padatnya acara jalan-jalan summer camp saya mendapatkan tawaran menarik. Tawaran untuk memandu beberapa orang turis melancong di area Jateng-DIY dan Bali selama satu bulan penuh. Menerima tawaran itu hari-hariku penuh warna. Banyak momen tak terlupakan dan berharga.

Itu adalah kali pertama saya melakukan segalanya sendirian, menjadi pemandu sekaligus penjaga mereka mulai dari rute perjalanan dan transportasi yang digunakan, keputusan yang harus diambil di saat mendesak, uang makan, hotel, dan banyak hal lain. Hal itu sedikit banyak mendewasakan saya, melambungkan mimpi serta bakat terpendam saya untuk mengorganisir orang lain dan membuat mereka merasa nyaman hihihi...

Briefing sehari sebelum keberangkatan yang hanya berlangsung selama beberapa jam itu belum merasuk ke otak. Malamnya mataku nyalang karena adrenalin yang mengalir deras menyambut esok hari. 

Kata orang grup pertama adalah yang terbaik, saya setuju dengan istilah ini walaupun mungkin nggak selalu tapi nyatanya pengalaman saya cocok dengan istilah ini. Grup pertama saya ada tiga orang, satu orang lelaki dan dua orang perempuan, ada Simon Markland dan Gemma Banham (sekarang mereka menjadi Mr & Mrs Markland) yang nota bene adalah sepasang kekasih dari Oxford dan Toni Gutteridge dari Nottingham. 
Kebetulan ketiganya adalah warga Negara Britania Raya.

Ada cerita lucu tentang pertemuan pertama saya dengan Toni, ketika saya datang menjemput dia di Bandara A.Yani Semarang. Berbekal tulisan dengan nama Toni Gutteridge saya menunggu di pintu kedatangan, tengok kanan kiri mencari-cari sosok yang harus saya jemput karena kebetulan saat itu saya sudah diberi tahu bahwa yang akan saya jemput pertama kali adalah laki-laki. Saya menunggu dengan sabar sampai pintu kedatangan sepi, namun tak ada satupun yang datang menghampiri saya.

Namun tiba-tiba dari sudut mata saya melihat ada yang datang, seorang perempuan berjalan mantap ke arah saya sambil tersenyum seraya mendorong troli. 

Dia bilang "Hi.." Saya jawab "Hi.." sambil tersenyum dan bertanya " Are you Toni the participant of Bangun Warastra Dejavato?" dengan penasaran. "Yes, I'm Toni and you?" jawabnya lalu saya pun menimpali "I'm Dani but are you sure you are Toni Gutteridge?" cecar saya karena saya masih belum percaya bahwa tamu yang harus saya jemput berubah kelamin hahhaha... "Yes, of course, any problem?" tanya Toni penasaran "Well i just a bit shock because Dejavato said that you are a guy" jawab saya sambil tertawa dan akhirnya Toni pun ikut tertawa mendengar penjelasan saya "Well yes Tony with "y" is for guy and Toni with "i" for girl like me" jawabnya. Saya masih geli sampai sekarang kalau mengingat kejadian itu.

Tak hanya disitu, seminggu pertama saya harus "menjamu" tiga orang Inggris ini di negeri saya tercinta, mulai dari tetek bengek bangun tidur (sarapan), menjelaskan pengetahuan umum tentang kebiasaan penduduk lokal, budaya yang meliputi makanan dan juga pakaian tradisional (ada sesi nyobain kebaya dan sanggul plus acara masak-masak dan barbekyuan juga loh) :D. 






Termasuk ngajakin ke pasar padahal ketika training sehari di kantor Dejavato tidak ada tutorial tentang semua itu, intinya i have to make it by myself alias usaha sendiri. Tau sendiri kan hebohnya penduduk lokal kalau lihat bule plus keruwetan shock culture yang diderita para bule :) dan itu membangkitkan euforia tersendiri buat saya.

Selama seminggu kami tinggal di rumah Pakdhe Mul, salah satu local partner kegiatan Bangun Warastra. Rumahnya asri,nyaman lengkap dengan halaman luas dan kolam renang yang dibuka untuk umum.

Kami juga berkunjung ke SLB yang letaknya hanya 100m dari homestay, berbagi keceriaan bersama adek-adek yang luar biasa. Ikut kegiatan mewarnai, menyanyi, dan bagi-bagi coklat. Hari-hari yang menyenangkan. Oiya kami juga pergi memancing dan malamnya kami mengadakan pesta barbeque dari hasil memancing sekaligus berramah tamah dengan keluarga Pakde Mul. Selain ikan, kami juga membakar jagung dan marshmallow, daaan Pakdhe Mul juga menyiapkan hidangan istimewa khas ungaran yaitu Tahu Bakso dan Gethuk Kethek yang ternyata sangat digemari olah ketiga tamu asing itu terutama gethuknya :D.

Meninggalkan Ungaran, kami menuju Dataran Tinggi Dieng via Wonosobo dengan transportasi umum yang belum pernah kami alami sebelumnya. Deg-degan? Pastinya, tapi juga sangat antusias karena segala sesuatu pasti selalu ada yang pertama, begitu pula dengan perjalanan ini. Dari Wonosobo kami harus berganti bis, turun di pertigaan dan tas kami dilempar turun dengan cepat. Bikin para peserta melongo :D. 
Ini belum seberapa dibandingkan bis kecil yang harus kami naiki menuju Dieng. Sebelum naik semua barang dinaikan di atas bis dan masuk ke bis yang penuh sesak membuat peserta makin panik. Mereka sempat bertanya pada saya apakah tasnya aman diatas bus? apa tidak akan jatuh? apakah semua bus di Indonesia sudah tua seperti ini? Saya menjawab pertanyaan mereka dengan sabar dan diselingi senyum dan tawa..padahal dalam hati saya juga deg-degan.

Maklum medan yang harus ditempuh menuju Dieng kan terjal, hujan bisa turun setiap saat dan saya tau apa yang mereka rasakan hihihi… Dan saya harus berdiri selama perjalanan, tapi saya tetap harus pasang tampang cool... try to pretend everything is gonna be okay :D 

Hari pertama kami lalui dengan bersantai di kamar dan sedikit berkunjung ke beberapa tempat di sekitar Candi Arjuna, mengambil foto dan mencuri bunga (kalau ini sih kerjaan saya) ini sebutan mereka untuk saya Dani Gila Gali karena kegilaan yang saya lakukan mampu membuat mereka tertawa dan tercengang. 

Malamnya kami habiskan dengan main bingo, uno, tebak lagu dan ngobrol ngalor ngidul sambil memesan makanan serta kudapan untuk makan malam, tak ketinggalan bir bintang untuk mereka yang sudah jadi favorit. Pokoknya perjalanan saya kali ini penuh dengan bir walaupun saya tak pernah minum barang setetes.

Malam itu kami tidur agak cepat maklum jam 2 dini hari besoknya kami harus bersiap untuk perjalanan Sunrise Tour ke Puncak Sikunir. Kami berangkat pukul 02.00 dini hari dilengkapi dengan jaket tebal dan syal melingkari leher, menyusuri jalanan desa yang sepi bersama seorang pemandu, Mas Dwi. Udara yang dingin menggigit membuat nafas kami yang memburu di jalanan yang kian menanjak menguap.

Toni mulai terengah-engah dan berhenti sesekali kemudian dia mengeluh bahwa dadanya sesak dan mulai mengeluarkan obat semprotnya. Saya kaget bukan main, ternyata Toni mengidap asma untung tidak terjadi sesuatu yang fatal selama perjalanan. Saya takut membayangkan sesuatu yang buruk terjadi untungnya tidak. Ditengah perjalanan kami bertemu anjing yang mengikuti kami hingga akhir perjalanan yang kami panggil Bob.

Meskipun udara mengginggit tak urung kami mulai berkeringat karena medan yang cukup menantang, kami tiba di Desa Sembungan -Desa tertinggi di Pulau Jawa- sebelum adzan subuh berkumandang dan mulai mendaki bukit Sikunir.

Jalanan sunyi, sesekali terdengar suara katak dan pekik jangkrik di kejauhan menambah syahdu suasana. Kami harus berhati-hati karena jalur yang kami daki selain terjal dan curam juga licin, maklum tangganya terbuat dari tanah jadi begitu hujan turun jalanan menjadi licin. Kami saling membantu mengulurkan tangan bagi yang kesulitan, dan medan yang terjal terbayar dengan pemandangan indah yang terhampar luas di depan kami. 

Kami bisa melihat Gunung Sindoro, Sumbing dan Perahu dari sana ketika Fajar merekah untuk pertama kali. Memancarkan sinar keemasan cantik dan menenangkan hati, begitu besar kuasa Tuhan menciptakan pemandangan yang begitu menakjubkan. 





Tahun 2009 merupakan tahun pertama warga Dieng memperkenalkan Sunrise Tour bagi para pengunjung yang ingin menikmati pemandangan indah dari puncak Sikunir. Berbeda dengan beberapa tahun belakangan ini, dulu kita bisa menikmati sunrise dalam keheningan yang memabukkan bukanya diantara lautan manusia yang berebut selfie :D.

Nah itu tadi pengalaman pertama jadi pemandu wisata yang sangat membekas hingga kini. Terima kasih mbak Dini dan Mbak Marita yang melemparkan tema yang pertama dan ini adalah cerita saya. Lanjutan cerita destinasi lainnya menyusul ya.




6 comments:

  1. Dulu pernah jadi pemandu wisata, napa bisa berubah jadi sekretaris dekan, Daniii?

    ReplyDelete
  2. Saya salut mbak. Mengoordinir orang sesama warga indonesia aja nggak mudah apalagi mengoordinir bule.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener mbak...harus ekstra sabar apalagi beda culture hehehe

      Delete
  3. kapan kali pertama ketemu bule ya, waktu umur 16 tahn heheehe waktu merantau

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau pertama kali ketemu bule juga udah dari jaman SD atau SMP :D tapi yang beneran berinteraksi selama beberapa waktu dan hidup bareng ya saat traveling itu :D

      Delete