Friday, April 15, 2016

MY BLUE BIRD MENCERAHKAN DUNIAKU

Uji Coba Aplikasi My Blue Bird bersama teman Blogger- Dok. Blog Mama Lala
Tanggal 13 Februari 2016 lalu saya berkesempatan ikut blogger gathering Semarang yang diadakan oleh PT. Blue Bird Semarang yang berkantor di Jl. Brigjend Sudiarto No.492 Pedurungan Semarang Timur dalam rangka launching applikasi My Blue Bird. Akhirnya aplikasi ini bisa digunakan di Semarang, Alhamdulillah. Acara ini dihadiri oleh sekitar 30 orang media activist. Saya adalah salah satu perwakilan dari Komunitas Blogger Gandjel Rel Semarang dari 15 orang yang mendaftar. Acara dimulai pukul 10.00 dan saya terlambat sekitar 20 menit dikarenakan jalanan yang padat merayap. Sesampainya di kantor saya mengisi daftar peserta pada bagian nama saya dan berselfie di photo booth yang sudah disediakan Blue Bird. Memasuki ruangan, suasana cukup hening mengingat di depan sudah mulai ditayangkan slide presentasi dari Blue Bird yang disampaikan oleh Bapak R. Nur Wijaya yang merupakan Branch Manager Blue Bird area Semarang. Dan saya pun duduk dibangku baris depan segera mengikuti presentasi mengejar ketertinggalan.

Mendengarkan penjelasan dari Pak Wijaya saya jadi tahu pendiri Blue Bird adalah seorang perempuan. Adalah Mutiara Siti Fatimah Djoko Sutono atau yang dikenal dengan Bu Djoko oleh para pegawainya, seorang wanita tangguh yang ada dibalik layar kesuksesan Blue Bird. Menjanda di usia muda tak menyurutkan tekad beliau untuk terus berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, mulai dari berjualan telur dan batik. Kesempatan berharga itu datang ketika suami Bu Djoko mendapat pesangon dua buah mobil sedan bekas sebagai penghargaan. Dua buah mobil inilah yang menjadi cikal bakal perusahaan besar Blue Bird, dahulu namanya Chandra Taxi (Nama Anak pertama Bu Djoko).

Mutiara Djokosutono

Kenapa Blue Bird? 


Terinspirasi dari kisah si burung biru yang membawa keberuntungan bagi seorang gadis cilik berdasarkan cerita asal daratan Eropa, Bu Djoko akhirnya memutuskan untuk memberi nama usaha taxinya Blue Bird dengan harapan akan selalu beruntung dalam perjalanannya untuk menjadi semakin besar. Blue Bird berkembang pesat dibawah arahan Bu Djoko yang bertangan dingin, beliau adalah seseorang dengan etos kerja tinggi, disiplin tanpa melupakan unsur kekeluargaan demi kesejahteraan para pegawainya, karenanya Bu Djoko sangat dihormati.  PT Blue Bird Group sangat memperhatikan kesejahteraan para pegawainya yang tertuang dalam beberapa kegiatan Pemberian Beasiswa bagi anak-anak pegawai Blue Bird untuk Jenjang SMA hingga Kuliah, Mengadakan Pelatihan yang dapat menumbuhkan keterampilan untuk berwirausaha bagi para istri pegawai, dan lain-lain. Hingga kini, PT. Blue Bird Group telah melebarkan sayap di bisnis Pengiriman barang, kontainer, dan lain-lain.


Atas komitmennya yang terjaga kepada pelanggan Blue Bird dinobatkan sebagai Taksi dengan Pengembalian Barang terbanyak oleh MURI (Museum Rekor Indonesia) 

Berpegang teguh pada MOTTO ANDAL (AMAN NYAMAN MUDAH PERSONALIZE) Blue Bird Group berusaha meningkatkan pelayanan untuk kepuasan pelanggan semata melalui Aplikasi My Blue Bird. My Blue Bird merupakan penyempurnaan Aplikasi Pemesanan Taxi dari Blue Bird Taxi Mobile Reservation yang sudah digunakan sejak tahun 2011 yang menjadikan Blue Bird perusahaan taxi pertama di Indonesia yang memiliki layanan reservasi via aplikasi mobile. Dengan aplikasi ini pelanggan dapat memesan taxi lebih mudah, aman, dan nyaman. Aplikasi My Blue Bird juga memungkinkan pelanggan dan driver taxi untuk memantau posisi masing-masing, berdasarkan titik lokasi lewat peta digital sehingga dapat memperkirakan waktu kedatangan taksi. Akses ini menjadi poin lebih karena pelanggan dapat memperkirakan perjalanan dengan lebih akurat dan nyaman serta dapat melihat estimasi biaya perjalanan. Selain itu aplikasi ini juga memiliki keistimewaan yang disebut dengan fitur Call Driver. Fitur ini membantu pemesan untuk menelpon driver armada yang akan datang menjemput tanpa harus menghubungi operator karena nomor hp driver sudah tertera. Tapi nomor pemesan tidak akan terlihat, jadi nomor pelanggan tetap aman karena dirahasiakan dengan standar keamanan tinggi.  Asik kan? iya dong... Blue Bird kan selalu ingin memuaskan pelanggannya :D.

Aplikasi ini bisa diunduh gratis di mybb.bluebirdgroup.com di smartphone kesayangan Anda lho via Google Playstore, Apple Store, dan Blackberry App World. Untuk Windows Phone sementara belum bisa semoga pihak Blue Bird Grup akan segera membantu para pengguna Windows Phone untuk ikut menikmati aplikasi ini. Selamat menikmati aplikasi My Blue Bird



Teruntuk Blue Bird, sebagai salah satu pelanggan setia saya sangat menyambut baik aplikasi ini karena terbukti praktis. Pelanggan tidak perlu lagi menghubungi operator yang kadang sibuk ketika ditelepon padahal sedang buru-buru karena aplikasi ini membantu pelanggan untuk berhubungan langsung dengan driver taxi. Saya ingat tahun lalu ketika saya hamil tua, suami sering keluar kota untuk urusan pekerjaan akhirnya saya harus pulang sendiri. Padahal rumah saya tidak dilalui jalur angkot jika sudah sore, akhirnya saya sering menggunakan jasa Blue Bird untuk mengantar saya pulang ataupun bepergian ke tempat yang cukup jauh. Pun ketika saya dan suami harus mengejar penerbangan pertama untuk urusan pekerjaan, Blue Bird selalu menjadi pilihan kami. Ibarat cinta tak kan pindah ke lain hati ehehehe... Saya merasa sangat terbantu dengan keberadaan Blue Bird dengan jaminan kepuasan pelayanan. Apalagi driver-driver Blue Bird sangat ramah, tapi tidak berlebihan sehingga kenyamanan pelanggan tetap terjaga. Saya sendiri termasuk tipe pelanggan yang senang mengobrol jadi tidak masalah jika diajak ngobrol ngalor ngidul. Terima kasih Blue Bird :D.



Tulisan ini diikutsertakan pada My Blue Bird Blogging Competition yang diselenggarakan oleh PT Blue Bird Tbk.

Thursday, April 14, 2016

LAVA TOUR, MENJAMAH SISI LAIN MERAPI


Siapa yang tak kenal merapi? kita sebagai masyarakat Indonesia apalagi yang tinggal di Jawa pastilah mengenal salah satu gunung paling aktif di dunia ini. Apalagi pasca erupsi 2010 lalu, Merapi makin nge-hits :D. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya bersama rekan kantor mendapat kesempatan untuk mencicipi serunya menjelajah Merapi. Serunya dimana? Seru karena kami diajak berkeliling merapi melalui jalur tidak biasa, lebih tepatnya jalur lahar dingin Merapi yang telah membumi hanguskan ratusan rumah warga dan juga warga itu sendiri. Yup, kami diajak berkeliling merapi dengan mengendarai mobil Jeep Willys untuk off road melalui paket wisata Lava Tour Merapi Kaliadem. Seru kan? Seruuuu dong tapi kayaknya nggak seru deh kalo belum nyobain sendiri hehhehe gaya banget yah mentang-mentang udah nyobain.

bersama Rombongan kantor 

Kami serombongan dari kantor, sekitar 50 orang berangkat dari Semarang menuju Jogja, tepatnya daerah Kaliurang untuk melakukan rehat sejenak dari rutinitas kantor. Kami mengadakan semacam piknik bersama sekaligus sesi motivasi agar kembali semangat dalam bekerja. Kami berangkat selepas sholat Jumat dan sampai di Wisma tempat kami menginap sebelum Maghrib, maklum jalanan di akhir pekan padat merayap. Malam itu kami istirahat.

Paginya setelah sarapan kami diajak untuk olahraga sebentar dan juga melakukan pemanasan lewat beberapa permainan yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi dan juga kerjasama yang solid dari tim. Permainan berlangsung seru hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.00. Waktunya tour... yeay!!

Waktu itu kami dibagi menjadi beberapa kelompok berisi 4 orang karena Jeep hanya muat dinaiki maksimal 5 orang termasuk driver. Cuaca cukup hangat dan langit cerah, kami diajak menyusuri kaliurang lewat jalur yang berbeda, memasuki perkampungan, mendaki perbukitan, dan saling mengejar dengan jeep lain. Menyusuri lautan debu pasir sisa erupsi Merapi bukanlah hal mudah. Medan yang sulit dan rute yang terjal memaksamu untuk terus berpegangan supaya tidak jatuh ketika pengemudi menginjak rem atau memacu gas dalam-dalam. Tapi disitulah letak keseruannya! Adrenalinmu bakal terpacu.

Sebelum merangsek naik di ketinggian Merapi, kami diajak mampir ke Museum Sisa Hartaku. Museum ini berisikan barang-barang kenangan yang menjadi saksi bisu ganasnya letusan Merapi. Botol kaca yang meleleh, rangka sepeda motor, peralatan memasak yang rusak berat dan berselimutkan debu, hingga kerangka hewan peliharaan. Sebuah jam yang berhenti diangka 00.05 menjadi penanda waktu terjadinya tragedi tersebut. Dari sini perjalanan menuju Merapi semakin meliuk diwarnai kepulan debu dari jeep barisan depan. Kami saling memacu gas, berkejaran menjadi yang terdepan sembari menikmati pemandangan hijau disekitar dan sejuknya angin pegunungan. Kaliadem, yang dulunya kawasan hutan yang cukup asri berubah menjadi lautan pasir. Jejak lain keganasan Merapi. Disini kami menyaksikan kegagahan Merapi dari dekat, mengagumi dan memuja ciptaan-Nya. Selain itu kami juga masuk ke dalam bunker yang dibangun untuk menyelamatkan diri tatkala terjadi erupsi namun tetap ada yang meregang nyawa disana. sebelum meninggalkan Kaliadem kami diajak untuk merenung sejenak, bersyukur karena masih diberikan berkah kehidupan sehingga bisa menikmati dan mengagumi berbagai keindahan ciptaanNya dan mendoakan saudara-saudara yang sudah menjadi korban Merapi. Semilir angin melambungkan doa-doa kami dan meniupkan harapan baru lewat pasir yang berbisik.

Rombongan Jeep dan kepulan debu

Kerangka Hewan Ternak

Jam Legendaris Saksi Bisu Erupsi Merapi

Narsis dikit di lereng Merapi

Beranjak dari Lereng Merapi di Kaliadem, kami menyusuri jalanan yang sama untuk pulang ke penginapan. Namun keseruan belum berhenti sampai disitu. Jeep kami di belokkan menuju arah Kali Kuning untuk bermain air sebentar. Yang paling seru adalah setelah melewati jalanan sempit yang curam dan berkelok Jeep akan digeber dengan kencang masuk ke dalam sungai. Byuur....jeep membelah air dan kami lewat diantara air yang berderak naik, membasahi seluruh tubuh. Meski dingin dan tubuh kotor terkena air serta lumpur nyatanya hal ini membuat ketagihan dan ingin mengulanginya lagi dan lagi. Sayang sekali kami tidak sempat berfoto di sesi ini.

Bagi saya, ini adalah salah satu liburan terseru bersama teman-teman kantor yang pernah saya ikuti. Penasaran dengan keseruannya? Silakan mencoba sendiri bersama keluarga atau orang-orang terdekat dijamin asik. Selamat berlibur.



Wednesday, April 13, 2016

NAPAK TILAS SEJARAH DI MUSEUM KERETA API AMBARAWA

Peron Stasiun Ambarawa

Ambarawa merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Semarang atau Semarang Coret :) yang memiliki pesona tersendiri di industri pariwisata. Sebut saja Rawa Pening, Museum Kereta Api, Kampung Kopi Banaran hingga Goa Bunda Maria Ratu yang tersohor. Namun kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Museum Kereta Api lagi setelah pengalaman pertama saya berkunjung di tahun 2008 lalu dia acara Herritage Walk. Tanggal 27 Maret 2016 adalah momen jalan-jalan lengkap saya yang pertama setelah memiliki anak. Kami berangkat pukul 07.30 dari rumah dan sampai disana pada pukul 08.30 setelah sebelumnya berhenti beberapa menit untuk sarapan. Suasana parkiran masih lengang begitu pula ketika memasuki area lobby loket untuk membeli karcis. Tiket masuk seharga Rp 10.000,- per orang untuk dewasa, dan gratis untuk anak usia 0-3 tahun. Kami menyusuri lorong di belakang loket menuju area stasiun sambil mengamati papan-papan MMT yang berisikan ilustrasi gambar pemuugaran berbagai stasiun yang ada di Jawa Tengah termasuk stasiun Tuntang dan Kedung Jati (Purwodadi). Di seberang hiruk pikuk pengunjung mulai terlihat terutama area peron yang kami tuju untuk membeli tiket kereta rute Ambarawa-Tuntang. Syukurlah antrian tiket tidak begitu mengular, sehingga kami masih kebagian tiket keberangkatan pertama pada pukul 10.00 WIB.

Usut punya usut kereta wisata Ambarawa-Tuntang ini hanya beroperasi setiap hari minggu dan juga tanggal merah. Dalam setiap operasi ada 3x keberangkatan yaitu pukul 10.00, 12.00, dan 14.00. Selain kereta diesel ada juga kereta uap yang bisa di sewa dengan minimal rombongan yang berisi 20 orang. Harga sewanya pun tak main-main Rp. 10.000.000,- untuk kereta uap karena harga kayu jati untuk bahan bakar saja sudah mahal. Kereta diesel pun ternyata juga bisa disewa lho, kapasitas 1 gerbong kereta diesel adalah 40 orang dengan harga sewa Rp. 5.000.000,-. Rute kereta ada dua Ambarawa-Bedono-Ambarawa (Kereta Uap) dan Ambarawa-Tuntang-Ambarawa (Kereta Diesel). .

Hari itu suasana ramai, maklum hari libur terakhir dari rangkaian liburan panjang  dari Jumat s/d Minggu dan kebetulan ada rombongan dari Fakultas Kedokteran (FK) UNDIP yang menyewa kereta diesel rute Ambarawa-Tuntang-Ambarawa, mereka diberangkatkan pada pukul 09.00. Sembari menunggu kereta membawa rombongan FK kembali untuk keberangkatan pukul 10.00 kami pun mengajak si kecil berkeliling. Si kecil sangat gembira dan bersemangat, saking semangatnya dia tidak mau digandeng. Ya sudah kami-ibu dan ayahnya- mengikuti di belakang. Lambat laun suasana semakin ramai, peron penuh dengan pendatang baru dan antrian tiket mulai mengular kami pun bergerak ke tepian melongok area lokomotif dan mendarat dibawah pohon beringin yang rindang. BDi area ini banyak pengunjung yang berselfi dan welfie ria di area ini apalagi ada tulisan I <3 ambarawa yang bisa jadi tempat ciamik untuk berfoto, saya pun tidak mau ketinggalan untuk berfoto ria disana hihi. Banyak pasangan muda-mudi yang mengambil gambar dari lokasi ini sambil bercengkerama riang. Pukul 10.10 kereta diesel yang membawa rombongan FK UNDIP sudah kembali dengan membawa 2 gerbong tambahan. Pukul 10.15 akhirnya kami para penumpang yang sudah antri membeli tiket bisa merasakan duduk manis di gerbong yang melaju pelan melintasi kawasan pinggiran Ambarawa.


Salah satu Lokomotif Tua

Spot I Love Ambarawa

Gerbong penuh, tak ada tempat duduk kosong yang tersisa. Semilir angin menerpa wajah-wajah riang merasakan pengalaman pertama naik kereta model lama ini. Interior yang khas-dari kayu jati tua-yang masih mengilat menambah syahdu suasana serasa kembali ke jaman dulu, ketika kereta ini ada tuk pertama kali. Jendela-jendela kayu dengan desain sederhana menambah kesan kuno yang magis.

Bagian dalam Kereta Diesel

Kereta melintasi area Rawa Pening yang di penuhi tanaman enceng gondok dan juga teratai beberapa penumpang tampak sibuk mengambil gambar pada perahu yang tertambat di tepian dan ber "ah-oh" ria. Tampak beberapa ekor burung bangau blekok yang terbang di atas area persawahan. Suasana hening dan semilir angin membuat si kecil yang sedari tadi sibuk mulai terlelap di pangkuan, pun ketika kereta sudah sampai di stasiun Tuntang untuk berhenti sebentar tak membuatnya bangun.
Kincir angin

Area Persawahan 

Perahu yang tertambat di area Rawa Pening



Stasiun Tuntang adalah gambaran stasiun tua yang cocok untuk syuting film dengan latar tahun 40 an ketika masih banyak noni-noni Belanda yang berjalan dengan payung kain mereka menanti kekasih hati turun dari gerbong. Sayang area toilet disana tidak terawat sehingga mengurangi daya tarik dari stasiun ini.

Peron Stasiun Tuntang

Secara keseluruhan saya menikmati perjalanan singkat dengan kereta diesel ini, namun jika boleh menambahkan akan lebih menyenangkan bila ada guide yang menjelaskan sejarah dari stasiun Ambarawa-Tuntang serta kereta yang membawa kami semua selama perjalanan. Selain menambah wawasan, suasana hangat pun akan terbangun dalam napak tilas singkat yang sarat akan makna tersebut. Selamat berlibur dan mencicipi syahdunya derak roda yang beradu dengan rel di pinggiran Ambarawa :D.