Monday, February 29, 2016

RITUAL SAKRAL BAGI SANG WALET

Debur ombak memecah keheningan, menerjang batu karang yang kokoh di tepian. Memecah buih ke buritan. Mendongak kulihat beberapa burung mengepakkan sayapnya menjauh, hilang diantara tebing-tebing curam. Cantik, batinku seraya menyerap seluruh energi dan keindahan yang ada di sekitarku, kuhirup nafasku dalam-dalam mencoba mengisi paru-paruku dengan oksigen sebanyak-banyaknya. Hari itu aku berada di pantai Karangbolong, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah di pesisir selatan. Disinilah tempat penghasil sarang burung walet yang tersohor di Kebumen sehingga burung walet dijadikan ikon kota Kebumen, dibuat tugu lawet di dekat alun-alun Kabupaten Kebumen. Burung walet ini tinggal di lubang-lubang gua atau dinding karang yang ada di bibir laut Karangbolong. Kata suamiku yang memang asli orang Kebumen, ada sebuah ritual unik yang harus dijalani ketika akan memanen sarang walet, berawal dari mitos dan berlanjut menjadi tradisi. Kakeknya sering bercerita mengenai asal mula prosesi itu dan sekali waktu mengajaknya untuk melihat langsung ritual tersebut.

Sejarah

Dikisahkan, ada seorang utusan dari Kerajaan Mataram Kertasura, untuk mencari obat penawar bagi permaisuri yang sakit parah sampai ke pantai Karangbolong. Disana ia bertapa mencari wangsit, Kiai Surti namanya dan mendapatkan wangsit dari Dewi Suryawati anak buah Nyi Roro Kidul. Sang Dewi memberikan petunjuk bahwa obat yang dicari adalah sarang burung walet yang ada di tebing goa Karangbolong. Namun sebelum mengambil sarang burung walet tersebut Kiai Surti harus melakukan beberapa ritual dan ketika masuk ke dalam goa dilarang menoleh ke belakang agar selamat. Seusai memetik sarang burung walet tersebut Kiai Surti kembali ke istana untuk menyerahkan obat penawar tersebut lalu sembuhlah sang permaisuri. 

Sejak saat itu Kiai Surti menikah secara batin dengan Dewi Suryawati dan kembali ke daerah Karangbolong bersama abdinya dan menjadi pemetik sarang burung walet untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berkali-kali mengambil sarang burung walet suatu hari kedua abdi Kiai Surti melanggar pantangan Dewi Suryawati yaitu menoleh ke belakang. Merekapun jatuh ke laut dan tewas seketika. Sejak saat itu Dewi Suryawati tidak mau membantu Kiai Surti untuk memetik sarang burung walet.

Keadaan ini memaksa Kiai Surti meminta bantuan pada bekel setempat yang bernama bekel Napsiah untuk membuatkan tangga yang nantinya digunakan untuk menuju goa tempat sarang burung walet berada. Selang beberapa tahun timbul keserakahan dalam diri bekel Napsiah untuk menguasai goa tempat sarang burung walet berada dengan cara mencoba meracuni Kiai Surti namun usahanya gagal karena isteinya sendiri menghianatinya dengan menceritakan niatnya pada Kiai Surti. Namun keserakahan telah menguasai bekel Napsiah sehingga diapun melanjutkan usahanya untuk menyingkirkan Kiai Surti. Ketika Kiai Surti sedang memanjat tebing menuju goa Ki Napsiah mendorong tubuh Kiai Surti dari tebing dan ketika Kiai Surti mencoba menyelamatkan diri tubuhnya ditebas oleh Ki Napsiah. Sebelum meninggal Kiai Surti sempat berujar " Akan kubalas kau Napsiah".

Kabar tewasnya Kiai Surti terdengar sampai telinga Raja Mataram yang menjadi marah karena perbuatan jahat Bekel Napsiah. Raja pun memerintahkan untuk mengambil alih pengelolaan sarang burung walet di Karangbolong. Kemudian Raja menjual lokasi sarang burung walet pada Belanda dan setelah merdeka pengelolaan sarang burung walet yang dikembalikan pada penduduk setempat diambil alih oleh Pemda Kebumen. Namun karena hanya mementingkan keuntungan kondisi sarang burung yang belum siap panen terabaikan sehingga banyak burung walet muda yang mati karena kehilangan sarangnya dan omset menurun drastis, sejak saat itu pengelolaan dikembalikan pada penduduk setempat.

Pemanenan Sarang Walet hanya berlangsung 4 kali setahun yaitu di mongso kaloro (Agustus), kapapat (Oktober), kapitu (Januari), dan kasongo (Maret). Namun menurut penanggalan Jawa waktu yang paling tepat untuk memanen sarang walet adalah mangsa kasongo. Menurut kepercayaan sarang burung walet di pantai Karangbolong adalah milik Nyi Roro Kidul, untuk itu sebelum memanen harus meminta ijin dulu dengan melakukan serangkaian ritual adat agar selamat dan terhindar dari musibah. 

Proses Ritual
Ritual dilakukan secara bertahap, yaitu:

1. Selamatan di pendopo kantor Dipenda Karangbolong dipimpin oleh Kepala Unit Dipenda Karangbolong
Selamatan yang dilakukan selepas dhuhur berlangsung sederhana hanya doa bersama sesepuh paling tua dan diakhiri dengan makan bersama.

2. Pementasan di Goa Contoh yang di pimpin oleh Dalang
Goa Contoh terletak sekitar 1,5 km dari kantor Dipenda Karangbolong, Pementasan Wayang di Goa Contoh hanya berlangsung singkat sekitar dua jam di siang hari dan setelah itu Dalang akan memimpin prosesi laung sajen ke laut. 

3. Melarung Sesaji di pantai Karangbolong dipimpin oleh Dalang
Larung Sesaji dilakukan setelah pementasan wayang di Goa Contoh. Sesaji yang harus dilarung ada beberapa macam seperti kembang telon, kelapa muda, jenang abang putih dan Kepala Kerbau.

4. Kenduri (selamatan) di rumah mandor pengunduh sarang burung walet dipimpin oleh sang mandor pemetik sarang burung walet
Kenduri berlangsung selepas maghrib. Pada prosesi kenduri di tempat mandor harus ada 66 jenis sesaji yang disiapkan dan harus lengkap atau proses pengambilan sarang burung walet akan berjalan tidak lancar. Acara berupa doa bersama yang di akhiri dengan makan tumpeng dengan lauk daging kerbau yang kepalanya dilarung ke laut.

5. Pementasan Wayang di Pendopo Dipenda Karangbolong dipimpin oleh Dalang
Pementasan dilakukan di malam hari selepas kenduri di rumah mandor. Pada saat pementasan ini dalang harus memainkan semua tokoh tanpa ada yang mati, dan dilarang berbicara yang saru dan sembrono meskipun sedang memainkan adegan lawak, jika ada maka biasanya akan ada korban saat pengunduhan berlangsung.

6. Selamatan di pos penjagaan sarang burung walet juga dipimpin oleh sanga mandor pemetik sarang burung walet
Ritual ini berlangsung pagi harinya . Kegiatan berupa doa bersama memohon keselamatan selama proses pengunduhan berlangsung dan melakukan pengecekan terakhir terhadap peralatan yang akan digunakan. Setelah itu diadakan rapat sekali lagi untuk menentukan waktu yang tepat.

7. Tayub
Salah satu kesenian tari yang terkenal dari Kebumen ini menjadi penutup kegiatan ritual Pengunduhan Sarang Burung Walet. Seluruh warga dihibur kesenian Tayub di Pendopo Dipenda, dan dengan dipentaskannya kesenian tari Tayub maka berakhirlah ritual Pengunduhan Sarang Burung Walet. Acara ini dilakukan di malam hari selepas maghrib.


Makna dan Nilai Budaya

Seluruh proses ritual yang dilakukan sebelum pengunduhan sarang burung walet dilaksanakan memberikan pemahaman akan pentingnya nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai luhur itu antara lain Kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan doa dan makan bersama demi keselamatan bersama, Ketelitian yang tercermin dalam prosesi ritual itu sendiri.  Sebagai suatu proses, upacara ritual tersebut membutuhkan persiapan baik sebelum maupun sesudahnya, yang mencakup keseluruhan; seperti peralatan upacara, tempat upacara, pemimpin upacara, dan juga peserta yang harus disiapkan dengan matang sehingga dapat berjalan dengan baik dan lancar. Dan semua itu butuh ketelitian. Gotong Royong yang tercermin dari banyaknya pihak yang terlibat dan saling bahu membahu, membantu demi kesuksesan upacara ritual. Religius tercermin dari doa bersama yang dilakukan untuk memohon keselamatan serta perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ritual mengunduh sarang burung walet di Karangbolong, Kebumen merupakan warisan budaya, adat istiadat, dan mitos yang patut dilestarikan sebagai pengingat untuk senantiasa bersyukur pada Tuhan sang penguasa alam.

Bagaimana dengan budaya di daerahmu?

1 comment:

  1. Budaya Indonesia memang kaya dan keren punya yaa... :)

    ReplyDelete